CDI After Market Yamaha Jupiter MX 135 : TPS On Vs Non TPS

OTOMOTIFNET – Buat pembesut Yamaha Jupiter MX 135, tentu sudah pada tau dong kalau di karburator bebek super andalan pabrikan Garputala ini menganut teknologi throttle position sensor (TPS).

Itu tuh sensor yang bertugas membaca bukaan skep karburator guna memberikan masukan ke modul pengapian (CDI) dalam menciptakan timing pengapian yang tepat pada kondisi mesin saat itu. Efeknya, pembakaran jadi lebih sempurna dan efisien.

Di samping tekoneksi dengan TPS, modul pengapian Jupiter MX juga berhubungan dengan kerja sistem pendingin yang sudah menganut radiator.

Terutama untuk kipas pendinginnya. Saat suhu mesin melewati batas optimalnya, maka sensor suhu yang ada pada saluran radiator akan memberikan input ke modul guna memerintahkan fan berputar mendinginkan radiator.

Nah, dahulu atau beberapa tahun silam saat awal-awal motor ini diluncurkan, untuk meng-upgrade performa dapur pacunya dengan melakukan penggantian otak pengapiannya pakai produk aftermarket, CDI yang ada di pasaran saat itu belum menganut TPS On. Maksudnya, CDI hanya mengatur timing pengapian berdasarkan putaran mesin tanpa input dari bukaan skep karburator.

Selain itu, kebanyakan tidak dilengkapi modul pengaktif kipas radiator. Sehingga CDI standar masih tetap digunakan (dikawinkan dengan CDI aftermarket). Kecuali bikinan BRT yang sejak awal dirilis sudah include sama modul pengaktif kipas radiator.

Tapi belakangan ini ceritanya beda lagi. Sebab beberapa ‘pemain’ otak pengapian high performance telah merancang modul pengapian Jupie MX yang terkoneksi dengan TPS maupun kipas radiatornya. Tentu masing-masing mengklaim kemampuan meningkatkan performa mesin akan lebih baik dibanding CDI biasa. Karena timing pengapian selain dirancang lebih optimal di semua kondisi putaran mesin, juga dikondisikan sesuai bukaan throttle karbu.

Nah, seberapa hebat kah CDI-CDI itu bila dibanding yang tanpa mengaktifkan TPS? Yuk, simak saja hasil pengujiannya berikut di atas mesin Dyno Sportdyno V3.3 pada Jupiter MX standar ting-ting, gres pinjaman dari pabrik.

BRT NEO DUAL BAND

Brand ini mewakili CDI aftermarket yang belum dilengkapi koneksi dengan TPS. “Namun sudah ada modul pengaktif kipas radiatornya,” bilang Heri dari bagian technical service PT Trimentari Niaga selaku produsen BRT. Tipe yang kami pilih adalah Dualband dengan pilihan kurva pengapian tune-up (T) dan racing (R).

Tapi saat pengujian, kurva yang dipakai adalah kurva T karena menimbang motor yang dipakai masih standar abis. Yakni dengan cara memposisikan sakelar pemindah kurva di posisi Off. Oh iya, produk ini sengaja kami dipilih lantaran rakyatnya lumayan banyak dan mudah ditemui di pasaran.

Dari hasil test dyno, CDI yang dibanderol Rp 505 ribu ini mampu mengerek tenaga puncak MX dari 10,7 dk/7.347 rpm (standar) jadi 11,2 dk di 7.481 rpm (naik 0,5 dk). Sedang torsi maksimum terdongkrak sebanyak 0,55 Nm dari 11,45 Nm/5.848 rpm (standar) jadi 12,0 Nm/5.775 rpm.

Telp. 021-8765447

VARRO

Otak pengapian lansiran PT Junior Motorsport (JMS) juga sudah menganut koneksi terhadap TPS dan kipas radiator. “Kurva pengapian yang disediakan mirip dengan standarnya MX 135. Namun di beberapa titik putaran mesin pada masing-masing map, timingnya disetting lebih optimal lagi berdasarkan riset yang kami lakukan,” jelas Thomas, bos JMS.

Harganya tergolong bersahabat, yakni cuma Rp 353 ribu. Meski begitu, hasil pengujian dynonya tak kalah dengan BRT maupun Rextor. Sama-sama mampu mendongkrak max power MX 135 sebanyak 0,5 dk yang diraih pada 7.328 rpm. Sayangnya, torsi puncak hanya terkerek sebanyak 0,44 Nm dari standar, yakni jadi 11,89 Nm. Lebih rendah sedikit dari kedua rivalnya itu.

Namun torsi segitu dicapai pada putaran mesin yang lebih rendah dari BRT dan Rextor, yakni di 4.707 rpm. Keunggulannya, entakan tenaga lebih terasa sejak putaran bawah. Sehingga mantap buat akselerasi awal.

Telp. 021-8751140

REXTOR ADJUSTABLE


C
DI from Batam yang sudah tekoneksi dengan TPS ini belum lama dilansir. Sesuai namanya, CDI ini memiliki fitur bisa diadjust timing pengapiannya. “Tapi hanya dengan menggeser derajat pulser hingga 4 derajat maju dan 4 derajat mundur, yang bisa dilakukan lewat switch yang sudah disediakan,” terang Robert Cong, managing director PT Global Motorindo yang bertindak sebagai distributor CDI Rextor.

Soalnya, lanjut Robert, khusus untuk MX 135 CDI-nya sudah diprogram 30 mapping pengapian yang akan berganti-ganti otomatis sesuai masukan dari TPS dan putaran mesin. Sehingga tidak perlu lagi map selector switch yang biasanya terdapat pada tipe ini buat motor-motor lain. Banderolnya di pasaran sekitar Rp 550 ribu.

Sama halnya dengan BRT, produk ini juga mampu mengatrol tenaga maksimum MX 135 standar jadi 11,2 dk yang dicapai pada 7.494 rpm. Namun torsi puncak yang didapat sedikit lebih tinggi dari BRT Dualband, yakni 12,06 Nm (naik 0,61 Nm dari standar) pada 4.971 rpm.

Telp. 021-42876931

Data Hasil Pengukuran Dyno
CDI Power maksimum Torsi maksimum
standar 10,7 dk / 7.347 rpm 11,45 Nm / 5.848 rpm
BRT NEO DUALBAND 11,2 dk / 7.481 rpm 12,00 Nm / 5.775 rpm
Rextor Adjustable 11,2 dk / 7.494 rpm 12,06 Nm / 4.971 rpm
Varro 11,2 dk / 7.329 rpm 11,89 Nm / 4.707 rpm
Catatan: bahan bakar pertamax

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s