Yamaha Jupiter MX 135, Enteng Ladeni Satria F-150!

Modif Yamaha Jupiter MX 135, 2011 (Jakarta)
Jangan sangka kalau engine tipe SOHC (Single Overhead Chamshaft) keteteran kala disandingkan dengan engine DOHC (Double Overhead Chamshaft). Buktinya, Yamaha Jupiter MX 135 yang SOHC milik Vidi Pramestian ini diyakini mampu menandingi Suzuki Satria F150 yang notabene usung konfigurasi DOHC.
Agar bisa sekencang Satria F-150, MX milik salah satu teller Bank swasta di Jakarta ini kudu dibore up! “Cukup main piston 58 mm. Itupun pakai model paketan berikut silinder blok,” beber Richard Riesmala selaku tunner A2 Speed.Tentunya, ada penyesuaian seting yang kudu dilakukan ketika aplikasi piston yang kini bikin volume silinder jadi 155,4 cc (stroke tetap standar, 58,7 mm).”Karena posisi piston sedikit terpendam dari bibir silinder blok, jadi dibubut bagian bawah silinder sekitar 1 mm,” ujar Mpe, sapaan akrab Richard. Melalui langkah ini, permukaan piston menjadi sejajar dengan bibir silinder.

Selain membuat posisi piston lebih ke atas, rasio kompresi mesin juga lebih meningkat. Terlebih, piston ini juga tidak memiliki bagian permukaan yang menonjol alias dome piston. Jadi, Mpe juga tak kuatir piston bakal mentok klep.

Tetapi, buat ikuti ubahan piston yang lebih besar, tunner 33 tahun itu juga ganti klep isap dan buang pakai diameter payung klep besar. Jika klep standar MX135 bermain di 19 mm (in) dan 17 mm (ex), kini ruang bakar disesaki klep 21 mm (in) dan 19 mm (ex).

Buat klep ex, pakai milik MX. Ya, klep standar MX yang sebelumnya menjadi klep isap, dipakai menjadi klep buang. Sedang klep isap 21 mm yang sekarang, mencomot milik Suzuki Thunder 125.

“Untuk durasi kem dibikin ulang lagi. In dibikin 261º, ex dibikin jadi 262º. Hitungan lift klep sekarang jadi 8 mm,” tambah Mpe yang bengkelnya di Jl. Joglo Raya, No. 92, Jakarta Barat. Tingginya lift klep, membuat Mpe kudu memperdalam bagian coakan klep yang ada di piston. Jadi, enggak kuatir mentok.

Power yang beranjak naik dari kondisi standar, Mpe juga lakukan penggantian bagian kopling. Kampas kopling, tak lagi pakai milik MX. Tapi, diganti pakai Kampas Honda Supra X125. “Kampas Supra sedikit lebih tebal dari MX. Jadi, lebih menggigit,” tutup tunner 2 anak itu.

Cetarrr…!. (motorplus-online.com)

DATA MODIFIKASI
Karburator: Keihin PE 28
Knalpot: R9
A2 Speed: (021) 938-41092 

Gir TDR Racing, Special Buat Balap


Gir TDR ini dproduksi untuk kaum speed lovers alias gila balap untuk kelas bebek. Karena untuk balap, maka ukurannya berbeda dengan gir bawaan pabrik.

“Kami memang memproduksi gir untuk keperluan balap di kelas bebek, jadi ukurannya dibedakan, jika gir asli buatan pabrikan ukurannya 428, TDR buat rantai 415,” buka Juffry Willar dari Mitra2000 di Jl. Lodan Raya No. 2, Lodan Center, Blok G No.2, Ancol, Jakarta Utara.

Menurut Juffry sebagai Riset and Development TDR, untuk Jupiter MX ukurannya  48 sampai 58 untuk gir belakang dan gir depan 11 sampai 16 dibanderol Rp 1 juta. Jupiter Z, gir belakang ukuran 35 hingga 48, sedangkan gir depan dari 11 sampai 16 dilego Rp 800 ribu, Honda dari ukuran 35 sampai 46 gir belakang dan gir depan 12-16 harganya Rp 1 juta.  (motorplus-online.com)

Kruk As Naik Stroke Faito, Tersedia Untuk Jupiter MX dan Karisma

Cara untuk meningkatkan volume silinder tidak hanya main bore up. Bisa juga dilakukan dengan cara stroke up. Namun banyak yang ragu karena setelah stroke up khawatir tidak balance. Motor malah bergetar dan power yang dihasilkan kurang maksimal.

Tapi, kini jangan khawatir. Khususnya bagi pemilik Yamaha Jupiter MX 135LC atau Honda Karisma. Tersedia kruk as yang bisa tinggal pasang. Enggak perlu repot balancing bandul kruk as pakai timah atau main bubut. Kini tersedia kruk as buatan Faito Malaysia.

Posisi big end sudah lebih keluar 3 mm dari standar. Total stroke yang didapat 6 mm. “Jadi, enggak pakai pen stroke lagi,” terang Acien alias Ergus dari R-59 Racing di Jl. Dewi Sartika No. 32, Ciputat, Tangerang.

Asyiknya, pihak Faito juga sudah menyediakan paking ketebalan 3 mm. Jadi, tidak perlu harus bikin paking untuk ganjal blok. “Banyak yang senang pakai. Karena kualitas produknya bagus, bahan kuat, power yang didapat juga sesuai,” promosi Acien yang punya istri dari Aceh itu.

Untuk harga yang ditawarkan Rp 1,250 juta. Lebih kompletnya bisa langsung tancap gas ke markas R-59 Racing atau kontak Acien di (021) 7430062. Siapa tahu  harga bisa digoyang. Ya nggak bos? (motorplus-online.com)

Yamaha Jupiter MX 135LC, Bore Up dan Stroke Up 215 cc

Modif Yamaha Jupiter MX 135LC, 2006 (Tangerang)

Yamaha Jupiter MX 135LC milik Dedy Wahyudi ini sudah 215 cc. Untuk mencapai kapasitas 215 cc, tentu harus main bore up dan stroke up. Paling pertama dilakukan bore up dengan cara menggunakan seher piston CBR 150R oversize 250. Jadi, diameternya 66 mm.

Boring pun ikut diganti pakai punya Honda Tiger. “Supaya piston bisa masuk ke silinder blok,” jelas Kiki Pramono asal bengkel Nusantara Motor di Jl. Ciledug Raya, Gg Langgar, No. 55, Tangerang.

Menggunakan seher dan boring segede itu, dipastikan mengganggu water jacket atau saluran air pendingin. Supaya tetap menggunakan pendingin air, ditutup dan dibikin jalur baru. Masuk dari atas dan keluar dari bawah.


Klep EE dikecilin jadi 26/23 mm, Blok silinder diganjal 6 mm

Setelah itu disusul main stroke up. Supaya langkah lebih panjang, posisi pusat big end digeser 2 mm. Naik-turun 2 mm, jadinya stroke total bertambah 4 mm. Sehingga total langkah piston kini 62,7 mm.

Jadinya bisa dihitung kapasitas silindernya. Dari diameter seher 66 mm dan stroke 62,7 mm. Volume silinder kini 214,4 cc, atau kalau digenapkan jadi 215 cc.

Namun akibat naik stroke dan diikuti pemakaian setang seher asli Kawasaki Ninja 150R, dipastikan posisi blok harus diganjal. Dimaksudkan agar seher tidak mentok kepala silinder. Apalagi setang milik Ninja lebih panjang 4 mm.

Abas, panggilan akrab Dedy Wahyudi menggunakan paking tebal dari bahan duralium. “Tebal paking ini 6 mm,” jelas Abas dan Kiki kompak.

Untuk mengimbangi silinder yang sudah bengkak, klep isap dan buang diganti. Pakai yang ukuran payungnya lebih lebar. Dipilih klep yang punya kode EE, aslinya klep ini milik Mitsubishi Lancer. Standarnya klep ini punya ukuran 31 mm untuk klep isap dan 25 mm untuk ex.

Namun dipasang di head MX dibikin kecil. Klep isap dibuat 26 mm dan ex 23 mm. “Pemakain klep EE dirasa lebih kuat karena batangnya 5 mm dan panjang klep bisa diatur dengan cara dibubut,” tambah mekanik yang berbadan subur itu.

Selain itu, pengabut bahan bakar diganti yang lebih gede. Aplikasi karbu Keihin PE 28 yang direamer jadi 31 mm. Diseting dengan aplikasi main-jet 150 dan pilot-jet 58.

Kemudian pengapian dibikin total loss. “Magnet dibubut agar ringan dibikin jadi 750 gram,” jelas Kiki yang biasa dipanggil Kidut Geboy itu.

Untuk mengatur timing pengapian dipilih CDI BRT I-Max. Klop dipadukan dengan koil YZ orisinal. “Selain api pembakaran lebih besar, torsi lebih cepat dan tarikan atas sampai bawah ngisi terus,” tegas Abas.

Pekerjaan terakhir benahi aliran gas buang. Knalpot orisinil diganti. Sebagai gantinya, dipakai jenis model free flow buatan sendiri. “Knalpot sangat berpengaruh pada power mesin. Karena pembuangan akhir mesin yaitu dilubang pembuangan,” tutup Abas yang rambutnya beruban itu. (motorplus-online.com)

 DATA MODIFIKASI
Pelek : Champ 1,40×17
Ban depan : Comet 60/90×17
Ban belakang : HUT 60/90×17
Cakram : TDR

Jupiter MX Pakai CDI Racing, Hasilnya?

OTOMOTIFNET – Meski dipakai setelah motor di-upgrade, CDI gak haram kok diaplikasi buat Jupiter MX standar. Sebab tinggal plug n play, terbukti tenaga meningkat. Terlihat dari hasil uji pada Jupiter MX kondisi standar yang baru jalan 850 km, pakai dynamometer Dyno Jet milik Sportisi Motorsport di Rawamangun, Jaktim.

Dalam kondisi standar, dengan bahan bakar Pertamax, hasilnya 9,4 dk/8.300 rpm, torsi 10,18/5.700 rpm. Nah bagaimana dengan CDI aftermarket, yang kali ini diikuti TDR, BRT, Varro dan Rextor?


BRT Neo Hyperband

Rextor Adjustable

TDR

Varro

Rextor Adjustable
Untuk MX tersedia tipe adjustable, harganya Rp 550 ribu. Di dalamnya termuat 30 mapping, “Sedang yang bisa disetel maju atau mundur timing sebanyak 4 derajat,” urai Robert Cong dari PT Global Motorindo, distributor Rextor.

Namun hasil yang tercatat malah menunjukkan penurunan tenaga maupun torsi. Tercatat power 8,63 dk/6.700 rpm, torsi 9,33/4.300 rpm. Hal ini terjadi dimungkinkan karena pemilihan kurva kurang tepat. “Juga perlu pengaturan ulang ukuran spuyer karburator,” lanjut Robert.Telp.021-42876931

Varro
Rilisan Junior Motorsport (JMS). Jenisnya fix tanpa ada setelan apapun. “Kurva pengapiannya diset mirip standar bawaan Jupiter MX, hanya pada beberapa titik diubah agar hasilnya lebih optimal,” terang Thomas, bos JMS. Harganya Rp 353 ribu.

Hasilnya pun ternyata cukup memukau, terutama torsi yang bisa meningkatkan paling besar. Sedang tenaga hanya naik 0,53 dk. Powerband menjadi sedikit lebih luas. Telp.021-8751140.

TDR
Adjustable dan punya 6 pilihan kurva dengan timing pengapian berbeda. Pemilihan disesuaikan kebutuhan. Gimana settingan CDI dibanderol Rp 1 juta ini untuk motor standar? “Rekomendasinya posisikan setelan pada angka 4,” beber Benny Rachmawan, kepala R&D Mitra2000.

Hasil tes, baca tabel. Tapi memperhatikan grafiknya, terlihat jika dari awal tenaga langsung meningkat, artinya dari awal tarikan lebih nendang. Telp.021-6930777

BRT Neo Hyperband
Pelopor CDI lokal ini diwakili tipe paling terjangkau, Neo Hyperband, yang tak ada setelan apa pun, “Jadi plug & play,” kata Willy Dreskandar, dari gerai F16 di kawasan Ciledug penjual CDI ini. Dijajakan sekitar Rp 400 ribu.

Kendati terjangkau, hasilnya tak mengecewakan (baca tabel). Grafik tenaga tak jauh beda dengan merek TDR. Telp.021-73446678

Kesimpulan
Lewat aplikasi CDI aftermarket ini, tenaga maupun torsi terkoreksi cukup signifikan. Tapi ada juga yang malah turuh. Indikasinya, harus ada penyesuaian ulang pada pemilihan kurva atau ukuran spuyer karburator.

Catatan: Tenaga standar yang kami pakai, sesuai hasil dari motor yang kami tes untuk uji CDI ini. Bukan mengacu dari data tes lama kami atau hasil tes klaim ATPM.

Data hasil pengukuran
CDI Tenaga Torsi
Standar 9,4 dk / 8.300 rpm 10,18 Nm / 5.700 rpm
TDR 10,03 dk / 8.250 rpm 10,38 Nm / 5.900 rpm
BRT Neo Hyperband 10,07 dk / 8.300 rpm 10,48 Nm / 5.900 rpm
Varro 9,93 dk / 8.150 rpm 10,57 Nm / 6.200 rpm
Rextor Adjustable 8,63 dk / 6.700 rpm 9,33 Nm / 4.300 rpm